More Info
KPOP Image Download
  • Top University
  • Top Anime
  • Home Design
  • Top Legend



  1. ENSIKLOPEDIA
  2. Rōmusha - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Rōmusha - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rōmusha

  • Deutsch
  • English
  • فارسی
  • Français
  • 日本語
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Русский
Sunting pranala
  • Halaman
  • Pembicaraan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Perkakas
Tindakan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Umum
  • Pranala balik
  • Perubahan terkait
  • Pranala permanen
  • Informasi halaman
  • Kutip halaman ini
  • Lihat URL pendek
  • Unduh kode QR
Cetak/ekspor
  • Buat buku
  • Unduh versi PDF
  • Versi cetak
Dalam proyek lain
  • Butir di Wikidata
Tampilan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Romusa)
Gambar peringatan Romusha di papan peringatan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1985

Rōmusha (労務者code: ja is deprecated ) (bandingkan corvée), adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti "pekerja wajib militer yang dibayar". Dalam bahasa Inggris, kata ini biasanya merujuk pada orang non-Jepang yang dipaksa bekerja untuk militer Jepang selama Perang Dunia II. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memperkirakan bahwa di Jawa, antara 4 hingga 10 juta rōmusha dipaksa bekerja oleh militer Jepang selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada masa Perang Dunia II,[1] dan banyak di antara mereka yang mengalami kondisi yang buruk dan meninggal atau terdampar jauh dari rumah. Namun, istilah ini tidak didefinisikan secara pasti oleh Jepang maupun Sekutu dan perkiraan jumlah total rōmusha terkadang mencakup pekerja yang tidak dibayar alias kinrōhōshi, serta pasukan pembantu pribumi, seperti pasukan tentara sukarelawan Pembela Tanah Air (PETA) yang disokong oleh Jepang, dan para transmigran sukarela ke pulau-pulau lain di Indonesia.[2]

Ikhtisar

[sunting | sunting sumber]
Monumen untuk mengenang para Rōmusha yang meninggal di Banten.

Rōmusha adalah pekerja wajib militer yang tidak dibayar, yang dimobilisasi di Sumatra dan Indonesia bagian timur serta Jawa. Sekitar sepuluh persen di antaranya adalah perempuan.[3] Masa kerja mereka berkisar dari satu hari hingga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tertentu. Jenis pekerjaan yang dibutuhkan sangat beragam, mulai dari pekerjaan rumah tangga ringan hingga konstruksi berat. Pada umumnya, para rōmusha dimobilisasi di setiap kabupaten dan dapat berjalan kaki ke tempat kerja dari rumah. Namun, untuk proyek-proyek konstruksi yang sangat besar, para rōmusha dapat dikirim ke kabupaten lain. Ketika masa tugas mereka selesai, mereka dikembalikan ke rumah dan digantikan dengan pekerja baru.[4] Namun, banyak juga yang dikirim keluar dari Indonesia ke daerah-daerah yang dikuasai Jepang di Asia Tenggara.

Meskipun angka pastinya tidak diketahui, M. C. Ricklefs memperkirakan antara 200.000 hingga 500.000 buruh Jawa dikirim dari Jawa ke pulau-pulau di luar Jawa, bahkan sampai ke Burma dan Thailand. Dari mereka yang dibawa keluar Jawa, Ricklefs memperkirakan hanya 70.000 orang yang selamat dari perang.[5] Namun, Shigeru Satō memperkirakan sekitar 270.000 buruh Jawa dikirim ke luar Jawa, termasuk sekitar 60.000 ke Sumatra. Satō memperkirakan bahwa 135.000 orang dipulangkan ke Jawa setelah perang oleh Belanda dan Inggris (tidak termasuk mereka yang ditemukan di Sumatra). Selain yang dipulangkan, ada juga yang kembali dengan cara lain bahkan sebelum Jepang menyerah. Menurut Satō, proporsi pekerja rōmusha yang meninggal atau terdampar di luar negeri mencapai sekitar 15%.[6]

Sejarah

[sunting | sunting sumber]

Praktik kerja rodi yang tidak dibayar sudah umum terjadi selama masa kolonial Hindia Belanda. Upah yang dibayarkan kepada para rōmusha tidak mampu mengimbangi inflasi, dan mereka sering dipaksa bekerja dalam kondisi yang berbahaya dengan makanan, tempat tinggal, dan perawatan medis yang tidak memadai. Perlakuan Jepang secara umum terhadap para pekerja sangat buruk. Para rōmusha dibantu oleh para pekerja yang tidak dibayar, kinrōhōshi, yang sebagian besar melakukan pekerjaan kasar. Kinrōhōshi direkrut untuk jangka waktu yang lebih singkat daripada rōmusha melalui asosiasi lingkungan yang dikenal sebagai tonarigumi, dan secara teoritis merupakan sukarelawan, meskipun paksaan sosial yang cukup besar diterapkan pada "sukarelawan" sebagai bentuk kesetiaan kepada tujuan Jepang. Pada tahun 1944, jumlah kinrōhōshi di Jawa berjumlah sekitar 200.000 orang.[7] Kebrutalan rōmusha dan sistem kerja paksa lainnya merupakan alasan utama tingginya angka kematian di kalangan masyarakat Indonesia selama pendudukan Jepang.[8] Sebuah laporan PBB kemudian menyatakan bahwa empat juta orang meninggal di Indonesia sebagai akibat dari pendudukan Jepang. Selain itu, sekitar 2,4 juta orang meninggal di Jawa akibat kelaparan selama tahun 1944-45.[9]

Dari tahun 1944, PETA juga menggunakan ribuan rōmusha untuk pembangunan fasilitas militer, dan untuk proyek-proyek ekonomi untuk membantu membuat Jawa lebih mandiri karena blokade Sekutu.[10]

Militer Jepang memanfaatkan tenaga kerja paksa tersebut secara ekstensif untuk pembangunan Jalur Kereta Api Burma-Thailand selama tahun 1942-43, dan Jalur Kereta Api Sumatra pada tahun 1943-45.[11] Tingkat kematian di antara para rōmusha akibat kekejaman, kelaparan, dan penyakit jauh lebih besar daripada tingkat kematian di antara tawanan perang Sekutu.

Dalam budaya populer

[sunting | sunting sumber]
  • Rōmusha adalah nama untuk sebuah film tahun 1973 arahan Sjumandjaya tentang masa penjajahan Jepang, tetapi tidak jadi diputar karena dilarang pemerintah Indonesia.[12]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  • cultuurstelsel
  • Perbudakan

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Library of Congress, 1992, "Indonesia: World War II and the Struggle For Independence, 1942-50; The Japanese Occupation, 1942-45" Access date: February 9, 2007
  2. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  3. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  4. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  5. ^ Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (Edisi 4th). Palgrave Macmillan. hlm. 337. ISBN 978-1-137-14918-3.
  6. ^ Satō, Shigeru (1994). War, Nationalism, and Peasants: Java Under the Japanese Occupation, 1942-1945 (dalam bahasa English). Armonk, NY: M. E. Sharpe Incorporated. hlm. 159–160. ISBN 9781317452355. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  7. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  8. ^ Cited in: Dower, John W. War Without Mercy: Race and Power in the Pacific War (1986; Pantheon; ISBN 0-394-75172-8).
  9. ^ Van der Eng, Pierre (2008) 'Food Supply in Java during War and Decolonisation, 1940–1950.' MPRA Paper No. 8852. pp. 35–38. http://mpra.ub.uni-muenchen.de/8852/
  10. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  11. ^ Hovinga, Henk (2010). The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe 1943–45. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067183284.
  12. ^ http://www.waseda-coe-cas.jp/paper/20030709_gotou_eng.pdf[pranala nonaktif permanen]

Artikel bertopik Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rōmusha&oldid=27722599"
Kategori:
  • Artikel dengan pranala luar nonaktif Mei 2021
  • Sejarah Indonesia
  • Kerja paksa
  • Perbudakan
Kategori tersembunyi:
  • Pages using the JsonConfig extension
  • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui
  • Artikel dengan pranala luar nonaktif
  • Artikel dengan paramater tanggal tidak valid pada templat
  • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen
  • Artikel mengandung teks Jepang
  • Lang and lang-xx using deprecated ISO 639 codes
  • Semua artikel rintisan
  • Semua artikel rintisan selain dari biografi
  • Rintisan bertopik Indonesia
  • Semua artikel rintisan Agustus 2025

Best Rank
More Recommended Articles