Slamet Muljana
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
![]() ![]() | |
Biografi | |
---|---|
Kelahiran | 21 Maret 1929 ![]() Yogyakarta ![]() |
Kematian | 2 Juni 1986 ![]() Jakarta ![]() |
Data pribadi | |
Pendidikan | Universitas Gadjah Mada Universitas Indonesia ![]() |
Kegiatan | |
Pekerjaan | sejarawan ![]() |
Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana (21 Maret 1929 – 2 Juni 1986),[1] adalah seorang filolog dan sejarawan dari Indonesia.[2]
Pendidikan dan Karier
Slamet Muljana memperoleh gelar B.A. dari Universitas Gadjah Mada tahun 1950, gelar M.A. dari Universitas Indonesia tahun 1952, gelar Doktor Sejarah dan Filologi dari Universitas Louvain, Belgia, tahun 1954, serta menjadi profesor pada Universitas Indonesia sejak tahun 1958.[3]
Slamet Muljana pernah mengajar di Universitas Gadjah Mada, IKIP Bandung (saat ini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia), Akademi Penerangan, dan Akademi Jurnalistik. Selain itu ia juga pernah mengajar di luar negeri, antara lain, Wolfgang Goethe Universitat (Frankfurt, Jerman), State University of New York (Albany, Amerika Serikat), dan Nanyang University of Singapore (Singapura). Serta ia pernah pula menjabat sebagai direktur Institut untuk Bahasa dan Kebudayaan di Singapura, serta menjadi anggota dewan kurator pada Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.[3]
Hasil Karya
Buku-buku hasil karya Slamet Muljana yang pernah diterbitkan, antara lain:
- Nagarakretagama (1953)[4]
- Poezie in Indonesia (1954)[5]
- Bahasa dan Sastra Indonesia (1955)
- Kaidah Bahasa Indonesia I (1956)[6]
- Kaidah Bahasa Indonesia II (1957)[7]
- Politik Bahasa Nasional (1959)[8]
- Sriwijaya (1960, terbit ulang 2006)[9]
- Asal Bahasa dan Bangsa Indonesia (1964)
- Semantik (1964)
- Menuju Puncak Kemegahan (1965, terbit ulang 2005)[10]
- The Structure of The National Government of Majapahit (1966)[11]
- Perundang-undangan Majapahit (1967)[12]
- Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara islam di Nusantara (1968, terbit ulang 2006)[13]
- Nasionalisme sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia I (1968)[14]
- Nasionalisme sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia II (1969)[15]
- A Story of Majapahit (1976)[16]
- Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979, terbit ulang 2006)[17]
- Dari Holotan ke Jayakarta (1980)[18]
- Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi (1981)[19]
- Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit (1983)[20]
Kontroversi dalam Karya
"Sekali fakta sejarah itu ditemukan, fakta itu tidak akan dapat diubah. Meskipun fakta sejarah itu mungkin terlalu pedas untuk dirasakan, ilmu sejarah tetap mengejar-ngejarnya".
— Tulis Slamet Muljana dalam kata pengantar bukunya.[21]
Karya-karya Slamet Muljana dalam ilmu Sejarah tidak jarang mengundang kontroversi dari para pembacanya. Misalnya dalam buku Runtuhnja keradjaan Hindu-Djawa dan timbulnja negara-negara Islam di Nusantara (1968) dengan berani ia menyatakan bahwa Walisongo adalah para ulama keturunan Tionghoa.[22] Ia menyandarkan pendapatnya pada buku karangan Mangaradja Onggang Parlindungan dalam buku "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) yang sejak semula bermasalah secara keilmuan.[23] Kontroversi buku Runtuhnja keradjaan Hindu-Djawa dan timbulnja negara-negara Islam di Nusantara (1968) tersebut dibahasa dalam satu bagian khusus oleh sejarawan Asvi Warman Adam dalam kata pengantar buku tersebut.[24]
Pendapat tersebut mengundang reaksi keras karena kepercayaan masyarakat yang sudah telanjur kuat, bahwa anggota-anggota Walisongo adalah keturunan Arab. Tidak hanya itu, pemerintah Orde Baru bahkan melarang terbit buku tersebut, karena saat itu sedang maraknya sentimen anti Tiongkok.[25] Slamet Muljana mendasarkan pendapatnya tersebut pada kronik Tionghoa dari klenteng Sam Po Kong yang ia kutip pula dari buku "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) karya Mangaradja Onggang Parlindungan.[24] Namun demikian sejarawan lainnya Agus Sunyoto membantahnya dengan mengatakan bahwa kronik Tionghoa tersebut hanyalah fiktif belaka.[26] Penelitian baru tahun 2017 berkesimpulan bahwa kronik Tionghoa dari Semarang dan Cirebon, yang banyak dikutip dalam karyanya, merupakan hoax atau palsu, dibuat pada masa modern di abad ke-20.[27]
Karya Slamet Muljana yang lain juga berani menentang pendapat umum. Dalam buku Sriwijaya (1960), ia berpendapat bahwa Rakai Panangkaran adalah anggota keluarga Syailendra yang telah mengalahkan keturunan Sanjaya. Padahal pendapat umum mengatakan kalau Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang menjadi bawahan Syailendra.
Rujukan
- ^ Muljana, Slamet (2008). Kesadaran nasional: dari kolonialisme sampai kemerdekaan. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 357. ISBN 979-1283-55-9.
- ^ "Mengenal Filologi, Apa Hubungannya dengan Teks Kuno?". Tempo. 2 Juni 2023 | 14.01 WIB. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ a b "Kontroversi Karya Slamet Muljana, Ini Profil Sejarawan dan Bapak Filologi". Tempo. 2 Juni 2023 | 13.15 WIB. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ Muljana, Slamet (2006). Tafsir sejarah Nagara Kretagama (Edisi Cetakan 4). Yogyakarta: LKiS. ISBN 978-979-25-5254-6.
- ^ Muljana, Slamet; Slametmuljana, R. B. (1954). Poëzie in Indonesia: een literaire en taalkundige studie (dalam bahasa Belanda). Leuvense Universitaire Uitgaven.
- ^ "Kaidah Bahasa Indonesia I Quotes by Slamet Muljana". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ Muljana, Slamet (1960). Kaidah bahasa Indonesia. Djambatan.
- ^ Muljana, Slamet; Slametmuljana, R. B. (1959). Politik bahasa nasional. Djambatan.
- ^ Muljana, Prof Dr Slamet (2006-01-01). Sriwijaya. Lkis Pelangi Aksara. ISBN 978-979-8451-62-1.
- ^ Raden Benedictus Slamet Muljana (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. LKiS Pelangi Aksara.
- ^ Muljana, Slamet (1966). The Structure of the National Government of Madjapahit (dalam bahasa Inggris). Balai Pustaka.
- ^ "Perundang - undangan Madjapahit". langka.lib.ugm.ac.id. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ Raden Benedictus Slamet Muljana (2005). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. LKiS Pelangi Aksara.
- ^ R. B. Slametmuljana, Author ([Date of publication not identified]). "Nasionalisme sebagai modal perjuangan bangsa Indonesia; Jilid 1". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-16. ;
- ^ Muljana, Slamet (1969). Nasionalisme sebagai modal perdjuangan bangsa Indonesia. Balai Pustaka.
- ^ Muljana, Slamet (1976). A Story of Majapahit (dalam bahasa Inggris). Singapore University Press.
- ^ Muljana, Slamet (1979). Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya. Bhratara Karya Aksara.
- ^ Muljana, Slamet (1980). Dari Holotan ke Jayakarta. Yayasan Idayu.
- ^ Muljana, Slamet (1981). Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Yayasan Idayu.
- ^ Muljana, Slamet (1983). Pemugaran persada sejarah leluhur Majapahit. Inti Idayu Press.
- ^ Muljana, Slamet (1968). Runtuhnja keradjaan Hindu-Djawa dan timbulnja negara2 Islam di Nusantara. Bhratara.
- ^ "250. Prof. Dr. Slamet Muljana dan Kontroversi Sejarah". Tektonesiana (dalam bahasa Inggris). 2014-12-16. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ Isnaeni, Hendri F. (2024-05-03). "Membantah Kisah Tuanku Rao". Historia.ID. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ a b https://ia902301.us.archive.org/35/items/kumpulan-berbagai-buku/Runtuhnya%20Kerajaan%20Hindu-Jawa.pdf
- ^ "MerahPutih Media Berita untuk Generasi Terkini". MerahPutih. Diakses tanggal 2025-08-16.
- ^ Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren
- ^ Wain, Alexander (Juni 2017). "The two Kronik Tionghua of Semarang and Cirebon: A note on provenance and reliability". Journal of Southeast Asian Studies. 48 (2): 179–195.