More Info
KPOP Image Download
  • Top University
  • Top Anime
  • Home Design
  • Top Legend



  1. ENSIKLOPEDIA
  2. Pasal 153 Konstitusi Malaysia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pasal 153 Konstitusi Malaysia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pasal 153 Konstitusi Malaysia

  • English
  • Minangkabau
  • Bahasa Melayu
  • தமிழ்
  • ไทย
  • 中文
Sunting pranala
  • Halaman
  • Pembicaraan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Perkakas
Tindakan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Umum
  • Pranala balik
  • Perubahan terkait
  • Pranala permanen
  • Informasi halaman
  • Kutip halaman ini
  • Lihat URL pendek
  • Unduh kode QR
Cetak/ekspor
  • Buat buku
  • Unduh versi PDF
  • Versi cetak
Dalam proyek lain
  • Butir di Wikidata
Tampilan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini sebagian besar atau seluruhnya berasal dari satu sumber. Tolong bantu untuk memperbaiki artikel ini dengan menambahkan rujukan ke sumber lain yang tepercaya.
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Pasal 153 Konstitusi Malaysia" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Pasal 153 Konstitusi Malaysia memberikan tanggung jawab kepada Yang di-Pertuan Agong untuk "melindungi kedudukan istimewa orang Melayu dan anak negeri

(...) Sabah dan Sarawak dan kepentingan sah kaum-kaum lain". Pasal ini juga merincikan cara-cara untuk mewujudkan hal tersebut, seperti dengan menetapkan sistem kuota untuk penerimaan pegawai negeri, beasiswa, dan pendidikan.

Pasal 153 merupakan salah satu pasal paling kontroversial di dalam Konstitusi Malaysia. Pasal ini dianggap telah membeda-bedakan orang-orang di Malaysia berdasarkan latar belakang etnis. Akibat keberadaan pasal ini, pemerintah Malaysia telah melancarkan tindakan-tindakan afirmatif yang hanya menguntungkan kelompok Bumiputra sebagai kelompok mayoritas.

Pasal ini dianggap sebagai kelanjutan undang-undang yang dibuat pada masa penjajahan Inggris untuk melindungi penduduk asli agar tidak kewalahan dengan banyaknya orang Tionghoa dan India yang datang ke Semenanjung Malaya. Setelah kemerdekaan Malaya pada tahun 1957, orang Tionghoa dan India biasanya menjadi orang kaya di daerah perkotaan, sementara kebanyakan orang Bumiputra bekerja sebagai petani miskin atau pekerja kasar.

Secara teknis, Pasal 10(4) Konstitusi Malaysia mengizinkan parlemen untuk melarang pembahasan mengenai pencabutan Pasal 153, dan pelarangan ini sendiri sudah dituangkan ke dalam bentuk undang-undang (termasuk pelarangan pembahasan di parlemen itu sendiri).[1]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Means, Gordon P. (1991). Malaysian Politics: The Second Generation, hlm. 14, 15, Oxford University Press.


Ikon rintisan

Artikel bertopik hukum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pasal_153_Konstitusi_Malaysia&oldid=27260043"
Kategori:
  • Hukum di Malaysia
Kategori tersembunyi:
  • Artikel yang membutuhkan referensi tambahan
  • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan
  • Semua artikel rintisan
  • Semua artikel rintisan selain dari biografi
  • Rintisan bertopik hukum
  • Semua artikel rintisan Mei 2025

Best Rank
More Recommended Articles