Ranu Klakah
7°59′09″S 113°16′18″E / 7.98583°S 113.27167°E
Ranu Klakah | |
---|---|
Ranu Lamongan | |
![]() Ranu Klakah (2025), dengan latar belakang Gunung Lamongan | |
Letak | Lumajang, Jawa Timur |
Jenis perairan | Danau vulkanik/maar |
Bagian dari | Lamongan Volcanic Field/LVF |
Terletak di negara | ![]() |
Panjang maksimal | 750 m (2.460 ft) |
Lebar maksimal | 600 m (2.000 ft) |
Area permukaan | 22 hektare |
Kedalaman rata-rata | 28 m (92 ft) |
Ketinggian permukaan | 250 m (820 ft) |
Ranu Klakah (ada pula yang menyebutnya Ranu Lamongan[1]) adalah sebuah danau maar yang terdapat di Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur. Letaknya sekitar 19 km di sebelah utara kota Lumajang. Dengan luas sekitar 22 ha dan kedalaman 28 m, danau ini berada pada ketinggian 250 m dpl. di lereng Gunung Lamongan. Saat ini Ranu Klakah oleh masyarakat setempat dipergunakan sebagai tempat budidaya ikan mujair dan ikan nila, dan juga sebagai tempat wisata. Tidak jauh dari Ranu Klakah terdapat dua danau yang lain, yaitu Ranu Bedali dan Ranu Pakis.
Danau kawah

Ranu Klakah merupakan salah satu dari 29 cekungan maar (danau kawah) hasil letusan G. Lamongan pada masa lampau.[1][2] Sebanyak 13 buah dari antara cekungan kawah itu kini terisi air,[3] termasuk di dalamnya Ranu Klakah, Ranu Pakis, dan Ranu Bedali di sisi barat gunung; Ranu Lading dan Ranu Logung di sisi selatan; serta Ranu Agung, Ranu Segaran, Ranu Segaran Duwas, Ranu Segaran Merah, dan beberapa yang lain di sebelah timur hingga timur laut.[1] Garis tengah Ranu Klakah berkisar antara 600 hingga 750 m, sementara ketinggian muka air danau sekitar 250 m dpl.[1]
Permukiman kuna

Lingkungan sekitar Ranu Klakah telah dihuni sejak beratus tahun yang lalu. Temuan-temuan arkeologis di Desa Tegalrandu di sisi danau, telah disurvei semenjak tahun 1990.[4] Temuan awal itu ditindak lanjuti dengan penelitian arkeologi yang lebih serius pada tahun 2006/2007 hingga 2014, yang mendapati adanya peninggalan-peninggalan kuna di Desa Tegalrandu berupa artefak dan lansekap budaya seperti batu-batu silindris berukir (dikenal sebagai watu dandang), mata beliung dari batu, struktur batu temu gelang, struktur pondasi candi, makam tua, serta punden batu-batu monolit dari masa megalitik.[5] Sisa-sisa pondasi berbahan batu bata yang ditemukan itu diperkirakan berasal dari masa Majapahit, dan menurut lokasinya disebut Candi Tegalrandu.[6]
Catatan kaki
- ^ a b c d Carn, SA (2000). "The Lamongan volcanic field, East Java, Indonesia: physical volcanology, historic activity and hazards." Journal of Volcanology and Geothermal Research, Vol 95, Issues 1–4, January 2000, pp 81-108. DOI: https://doi.org/10.1016/S0377-0273(99)00114-6
- ^ Gurusinga, MA, T Ohba, A Harijoko, & T Hoshide (2023). "Characteristics of ash particles from the maar complex of Lamongan Volcanic Field (LVF), East Java, Indonesia: How textural features and magma composition control ash morphology." Volcanica, Vol 6 (2): 415–436, Nov 15, 2023. DOI: https://doi.org/10.30909/vol.06.02.415436
- ^ Matahelumual, J (1990). "Gunung Lamongan." Berita Berkala Vulkanologi, Edisi Khusus No. 125.
- ^ Nastiti, TS, LD Ratnawati, & L Ekawati (1995). "Laporan survei di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tahun 1990." Berita Penelitian Arkeologi no. 44, 1994/1995. Jakarta: Puslit Arkenas.
- ^ Kasnowihardjo, G (2016). "Situs permukiman kawasan danau di Jawa Timur." Berita Penelitian Arkeologi no. 30, 2016. Balai Arkeologi Yogyakarta.
- ^ Kasnowihardjo, G (2014). "Candi Tegalrandu : bukti tinggalan Majapahit di Lumajang." dalam I. Andrisijanti (Ed.) Majapahit: Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya. Yogyakarta: Kepel Press.
