Tuanku Raja Ibrahim
Tuanku Raja Ibrahim adalah anak sulung dari Sultan Muhammad Daudsyah dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sebenarnya ia adalah seorang Putra Mahkota sebelum ayahnya ditangkap. Kejadian itu lalu disusul dengan pernyataan Belanda yang membubarkan Kesultanan Aceh yang menyebabkan statusnya sebagai Putra Mahkota dihapus.
Kehidupan Awal
Tuanku Raja Ibrahim lahir sekitar tahun 1896. Pada tanggal 16 November 1902, ketika ia berusia sekitar 6 tahun, K Van Der Maaten menyandera dia dan ibunya, Teungku Putroe Gambo Gadeng bin Tuanku Abdul Majid. Gubernur Sipil dan Militer Van Heutsz kemudian juga menyerukan agar Sultan Muhammad Daudsyah menyerah dalam waktu satu bulan dengan ancaman akan membuang Tuanku Raja Ibrahim dan ibunya yang juga permaisuri Kesultanan Aceh.[1]
Penyanderaan ini membuat Sultan Muhammad Daudsyah yang sedang bergerilya akhirnya turun menyerahkan diri kepada Belanda pada tanggal 10 Januari 1903. Kemudian pada tanggal 20 Januari 1903, Sultan dibawa ke Kutaraja untuk menghadap Gubernur Sipil dan Militer Van Heutsz.
Pada 24 Desember 1907, Belanda memberikan perintah pengasingan kepada Sultan, isteri, anaknya Tuanku Raja Ibrahim, Tuanku Husin, Tuanku Johan Lampaseh, pejabat Panglima Sagi Mukim XXVI, Keuchik Syekh dan Nyak Abas ke Ambon. Kemudian pada tahun 1918, mereka dipindahkan lagi ke Batavia.[2]
Kehidupan Dewasa
Sebagai seorang Putra Mahkota dari wilayah yang kalah perang, ia tidak memiliki harta apapun. Hal ini sesuai dengan hukum perang Reght van Over Winning (pemenang mendapatkan semuanya) yang dianut oleh kolonial Belanda pada masa itu.[2] Konon, Ratu Wilhelmina ingin berjumpa dengan Tuanku Raja Ibrahim dan memberikannya pangkat Letnan tituler.
Walaupun Sultan Muhammad Daudsyah melarang tetapi Tuanku Raja Ibrahim tetap pulang ke Aceh pada tahun 1937.[2]
Tuanku Raja Ibrahim dikenal dekat dengan presiden Sukarno sehingga ia juga memberikan nama Sukmawati kepada salah satu anaknya.
Pada tahun 1943, ia sempat menerima utusan Kaisar Jepang di Lameulo, Pidie, melalui kementerian Luar Negeri Jepang dan mengutus Jenderal Shaburo II. Pertemuan ini terjadi karena Sultan Muhammad Daudsyah pernah mengirimkan surat permintaan bantuan kepada Kaisar Jepang sebelum ia dibuang ke Ambon.[1]
Untuk menafkahi keluarganya, Tuanku Raja Ibrahim bekerja sebagai seorang Mantri Tani hingga akhirnya pensiun pada tahun 1960. Setelah pensiun ia mendapatkan uang pensiun sebesar Rp.9.000 dan tinggal di Lampoh Ranup, Lamlo Pidie dengan keluarga besarnya.
Tuanku Raja Ibrahim kemudian pindah ke Banda Aceh pada pertengahan tahun 1975 setelah dijemput oleh Tuanku Hasyim, SH (Kepala Kaum Alaidin) dan Tuanku Abbas, BA (mantan Kepala DEPPEN RI di Banda Aceh). Atas inisiatif gubernur Muzakir Walad dan anggota DPRD Waktu H. Yahya Luthan, Tuanku Raja Ibrahim mendapatkan satu unit rumah tipe 45 dengan status hak pakai selama ia masih hidup.[1]
Pada tahun 1975, ia juga mendapatkan tambahan Rp.5.000 dari Pemda dan Rp1.500 dari Departemen Dalam Negeri atas inisiatif dari Sultan Hamengkubuwono IX.[1]
Istri dan Anak
Tuanku Raja Ibrahim menikah dengan tujuh istri.[3]
- Potjut Hamidah, memiliki anak:
- Tengku Putro Safiatuddin Cahya Nur Alam, (almarhumah dimakamkan di komplek Baperis)
- Tengku Putro Darma Kasmi Cahya Nur Alam (almarhumah).
- Tjupo Hawa, memiliki anak:
- Tuanku Raja Zainal Abidin (almarhum, dan dimakamkan di Riweuk Pidie)
- Tengku Putro Sariawan Ratna Keumala (tinggal di Banda Aceh)
- Tuanku Raja Mansyur (almarhum).
- Tjupo Hafsah, memiliki anak:
- Tengku Putro Rengganis Jaya Kusuma (tinggal di Tangse Pidie)
- Tuanku Raja Kamaluddin (almarhum, meninggal di Banda Aceh saat tsunami 2004).
- Tjupo Chatidjah, memiliki anak:
- Tuanku Raja Johan (almarhum, dimakamkan di Cot Sukon Langga Pidie)
- Tuanku Raja Syamsuddin (tinggal di Lhokseumawe)
- Tuanku Raja Muhammad Daud (tinggal di Lhokseumawe).
- Potjut Aminah,, memiliki anak:
- Tuanku Raja Iskandarsyah (almarhum, dimakamkan di Riweuk Pidie disamping makam TR Zainal Abidin).
- Potjut Marjam, memiliki anak:
- Tengku Putro Sukmawati (tinggal di Banda Aceh).
- Tjupo Manjak, memiliki anak:
- Tuanku Raja Yusuf (tinggal di Banda Aceh)
- Tuanku Raja Sulaiman (tinggal di Kota Bakti Pidie)
- Tengku Putro Gamba Gading (tinggal di Sabang)
- Tuanku Raja Ishak Badruzzaman (tinggal di Kota Bakti Pidie).
Akhir Hidup
Tuanku Raja Ibrahim meninggal pada 1 Maret 1982 dan dimakamkan di Baperis. Ia memiliki 16 orang anak dari beberapa istrinya.[4] Salah satu anaknya yang bernama Tengku Putro Safiatuddin Cahya Nur Alam kemudian menjadi penerus estafet Kesultanan.
Referensi
- ^ a b c d ACEH, BIRO (2020-02-22). "Nasib Putra Mahkota Keturunan Aceh Terakhir". NUSANTARANEWS. Diakses tanggal 2025-06-24.
- ^ a b c Haris F, Teuku (2022-09-05). "Dokumenter: Nasib Putra Mahkota Keturunan Sultan Aceh Terakhir". RRI. Diakses tanggal 2025-06-24.
- ^ "Cerita Cucu Sultan Aceh Mencari Jejak Saudara-saudaranya". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-06-24.
- ^ MODUSACEH.CO (2025-06-24). "Pewaris Kesultanan Aceh, Cucu Raja Tuanku Raja Yusuf Meninggal Dunia". MODUSACEH.CO. Diakses tanggal 2025-06-24.