Pertempuran Kejiwan
| ||||||||||||||||||||||||||||
Pertempuran Kejiwan adalah pertempuran yang terjadi pada 9 Agustus 1826 selama berlangsungnya Perang Diponegoro, antara pasukan Pangeran Diponegoro dengan pasukan kolonial Belanda dan Mangkunegaran. Pasukan Belanda yang mengejar Diponegoro selama perjalanannya ke utara, dikalahkan dalam pertempuran sengit, sehingga Diponegoro dapat melanjutkan perjalanannya.
Latar belakang
Sepanjang awal tahun 1826, setelah dipaksa meninggalkan pengepungan Yogyakarta dan terusir dari markas mereka di Selarong, pasukan di bawah pimpinan Diponegoro mulai bergerak ke utara. Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), di bawah pimpinan Hendrik Merkus de Kock, melancarkan pengejaran untuk menangkap Diponegoro, menggunakan tiga barisan pasukan yang masing-masing berjumlah sekitar 400 orang yang terdiri dari campuran pasukan Belanda dan pribumi. Setelah serangkaian pertempuran kecil, salah satu barisan pasukan berhasil mencapai pasukan Diponegoro di lereng selatan Gunung Merapi pada awal Agustus.[1]
Pertempuran
Barisan pasukan Belanda yang terlibat dalam pertempuran, dipimpin oleh Mayor Bernard Sollewijn, terdiri dari 100 tentara KNIL (70 di antaranya adalah orang Eropa dan sisanya tentara pribumi), 200 prajurit Mangkunegaran, 50 pejuang Madura dan 40 djajeng-sekar (polisi kolonial). Barisan pasukan tersebut dilengkapi dengan beberapa artileri, mortir dan telah menerima informasi intelijen pada 7 Agustus bahwa pasukan Diponegoro telah mundur lebih jauh ke utara. Komandan barisan pasukan tidak mencoba melakukan upaya pengintaian lebih lanjut.[2] Sumber-sumber Belanda mengklaim bahwa Diponegoro memimpin 3,000 orang selama pertempuran tersebut.[2]
Pada 9 Agustus, tak lama setelah meninggalkan Desa Kejiwan (kini Kabupaten Sleman), pasukan Sollewijn berhadap-hadapan dengan pasukan Diponegoro yang dipisahkan oleh sebuah ngarai. Setelah baku tembak singkat, pasukan Sollewijn menyerbu melintasi ngarai yang awalnya memaksa pasukan kavaleri Diponegoro untuk mundur. Namun, pasukan sayap kiri Diponegoro berhasil mengepung pasukan Sollewijn dan menyerang pasukan Mangkunegaran, sehingga menimbulkan kekalahan telak yang dengan cepat menjalar ke seluruh barisan pasukan. Pasukan Sollewijn dipaksa kembali ke ngarai dan dikepung, dengan satu detasemen kecil berhasil keluar dari ngarai dan dapat melarikan diri.[3][4]
Kesudahan
Beberapa anggota pasukan Sollewijn yang berhasil selamat, termasuk Sollewijn sendiri, berkumpul kembali dengan pasukan Belanda lainnya. Setelah mendengar berita kekalahan tersebut, pasukan Belanda mengurungkan pengejaran mereka terhadap Diponegoro.[5] Catatan Belanda menyatakan bahwa, 150 anggota barisan pasukan Sollewijn tewas, termasuk 14 tentara Eropa dan 12 tentara KNIL pribumi, 112 pasukan Mangkunegaran dan 14 pejuang Madura dan djajeng-sekar.[5] Kekalahan yang diderita pasukan Sollewijn menimbulkan kepanikan singkat di kalangan komando tinggi Belanda, yang mempertimbangkan untuk memindahkan markas mereka ke wilayah utara di Semarang untuk sementara waktu, menjauh dari pasukan Diponegoro. Namun, hal ini tidak terjadi dan sebagai gantinya, Belanda menarik kembali 1,500 pasukan yang ditempatkan di luar Jawa untuk menggantikan kerugian mereka.[6]
Pasukan Diponegoro berhasil memperoleh sejumlah artileri dan kuda Belanda, beserta senjata api dan amunisi yang cukup untuk melengkapi 150 prajurit infanteri.[7][5] Kemenangannya memungkinkan Diponegoro untuk melanjutkan pergerakannya ke utara untuk bergabung dengan pasukan pribumi lain di bawah pimpinan Kyai Maja setelah merebut kota Delanggu.[8]
Dalam budaya populer
Pada 2014, lukisan tahun 1979 yang menggambarkan pertempuran karya Sindoedarsono Soedjojono, Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro ("Prajurit Kita di bawah Pangeran Diponegoro"), terjual senilai HKD58,38 juta yang pada saat itu, merupakan harga tertinggi yang pernah dibayarkan untuk sebuah karya pelukis Indonesia.[9] Pada 2024, lukisan ini merupakan lukisan Indonesia termahal kedua, setelah Perburuan Banteng karya Raden Saleh.[10]
Referensi
- ^ Djamhari, Saleh A. (2002). Stelsel benteng dalam pemberontakan Diponegoro 1827-1830: suatu kajian sejarah perang (Thesis). Universitas Indonesia. hlm. 82–83.
- ^ a b Louw, P. J. F. (1897). De Java-oorlog van 1825-30, Part 2 (dalam bahasa Belanda). Batavia, Hindia Belanda: Batavia Landsrukkerij. hlm. 452.
- ^ Louw 1897, hlm. 452–453.
- ^ Hageman, J. (1856). Geschiedenis van den oorlog op Java, van 1825 tot 1830 (dalam bahasa Belanda). Lange & Co. hlm. 204–205.
- ^ a b c Louw 1897, hlm. 454.
- ^ Louw 1897, hlm. 456.
- ^ Hageman, J. (1856). Geschiedenis van den oorlog op Java, van 1825 tot 1830 (dalam bahasa Belanda). Lange & Co. hlm. 204–205.
- ^ Djamhari 2002, hlm. 85.
- ^ "Saat Diponegoro Mengguncang Sotheby's". Tempo. 21 April 2014. Diakses tanggal 10 Maret 2025.
- ^ "Ini 3 Lukisan Termahal di Indonesia". Media Indonesia. 9 November 2024. Diakses tanggal 10 Maret 2025.