Al-Ashoghir
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan atau coba peralatan pencari pranala. (Mei 2025) |
Bagian dari seri |
Islam |
---|
![]() |
Al-Ashoghir (bahasa Arab: الأصاغر, translit. al-Aṣāghir) adalah istilah dalam literatur Islam yang secara harfiah berarti "orang-orang kecil" atau "yang muda". Dalam konteks tertentu di kalangan ulama salaf, istilah ini digunakan untuk merujuk kepada para penuntut ilmu atau tokoh-tokoh yang belum matang keilmuannya, namun berani berbicara dan berfatwa dalam perkara agama tanpa landasan yang kokoh.[1][2]
Istilah ini tidak merujuk semata pada usia muda, melainkan menggambarkan kurangnya kematangan dalam ilmu, ketidaksungguhan dalam ittibā‘ (mengikuti) pemahaman salafiyah, serta potensi penyimpangan dalam agama. Al-Ashoghir sering kali menggambarkan ahlul bidʻah ( bahasa Arab: أهل البدعة),[3] dan para ulama memperingatkan agar tidak menjadikan mereka sebagai rujukan dalam perkara agama, karena hal itu dapat menjadi sumber kesesatan.[1][2]
Dalil dan pendapat Ulama
Dari Abu Hurairah Nabi Islam Muhammad bersabda,
"Akan ada di akhir zaman dari umatku, orang-orang yang membawakan hadits yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya, juga belum pernah didengar oleh ayah-ayah dan kakek moyang kalian. Maka waspadailah, waspadailah!”
— (HR Muslim No.7 dalam Muqaddimah-nya)
Dari Abu Umayyah al-Jumahi, Nabi Islam Muhammad bersabda:
"Di antara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang menuntut ilmu dari al-Ashoghir."
— (HR. Ibnul Mubārak dalam Az-Zuhd \[2/316], dihasankan oleh Al-Albānī dalam Silsilah Ash-Shahīhah, hlm. 695)
Ibnul Mubārak رحمه الله, ketika meriwayatkan hadits ini, menambahkan penjelasan:
"Al-Ashoghir adalah ahlul bidʻah."
Penegasan ini menunjukkan bahwa bahayanya bukan pada usia, tapi pada penyimpangan akidah dan manhaj. Mengambil ilmu dari mereka merupakan salah satu tanda penyimpangan di akhir zaman.
Syaikh ‘Abdullāh al-Bukhārī hafizhahullāh menjelaskan:
“Al-Aṣāghir adalah ahlul bid‘ah dan ahli hawa nafsu. Bukan yang dimaksud orang yang kecil usianya, tapi yang tidak berada di atas jalan lurus.”
(Syarh al-Ibānah ash-Shughrā)
Ibnu Sirīn رحمه الله juga berkata:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
— (Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim)
Lihat Pula
Rujukan
- ^ a b S.Kom, Yulian Purnama (2019-06-17). "Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama". Muslim.or.id. Diakses tanggal 2025-05-29.
- ^ a b Jabali, Fuad (1970-01-01). "Irsā al-Usus al-'Ilmīyah li al-Dirāsat al-Islāmīyah: al-Taṭawwur al-Akādīmī li al-Jāmi'at al-Islāmīyah al-Ḥukūmīyah wa al-Ma'āhid al-Islāmīyah al-Ḥukūmīyah al-'Ulyā bi Indūnīsīyā". Studia Islamika. 9 (2). doi:10.15408/sdi.v9i2.668. ISSN 2355-6145.
- ^ Nurhadi, Nurhadi (2018-09-07). "BID'AH-BID'AH DALAM EKONOMI ISLAM (Paradigma Bid'ah Ulama)". Jurnal Khazanah Ulum Ekonomi Syariah (JKUES). 2 (2): 56–79. doi:10.56184/jkues.v2i2.56. ISSN 2579-3551.