Aliansi Delapan Negara
Aliansi Delapan Bangsa | |
---|---|
八國聯軍 (dalam bahasa Tionghoa) | |
![]() Delapan negara dengan bendera kapal angkatan laut mereka, dari atas ke bawah, kiri ke kanan: ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() | |
Aktif | 10 Juni 1900 – 7 September 1901 (1 tahun, 90 hari) |
Negara | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Aliansi | Tidak ada (individual) |
Tipe unit | Pasukan ekspedisi |
Peran | Untuk mengakhiri pengepungan berbagai legasi, mengatasi Pemberontakan Petinju, dan melindungi hak-hak warganegara asing dan orang Kristen Tionghoa. |
Jumlah personel | Sekitar 51.755 tentara |
Julukan | Koalisi |
Pertempuran | Pemberontakan Petinju |
Tokoh | |
Tokoh berjasa | Kedua: ![]() Pertama: ![]() |
Aliansi Delapan Bangsa | |||||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Aliansi Delapan Bangsa di Beijing setelah kekalahan Pemberontakan Petinju pada tahun 1901; bendera-bendera yang dapat dilihat di gambar ini: ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() | |||||||||
Hanzi tradisional: | 八國聯軍 | ||||||||
Hanzi sederhana: | 八国联军 | ||||||||
|
Aliansi Delapan Bangsa adalah sebuah koalisi militer multinasional yang menginvasi Tiongkok utara pada tahun 1900 selama Pemberontakan Petinju, dengan tujuan yang dinyatakan untuk mengakhiri pengepungan legasi asing di Beijing, yang saat itu sedang dikepung oleh kelompok milisi Kaum Petinju, yang bertekad untuk menghapuskan imperialisme asing di Tiongkok. Pasukan aliansi terdiri dari sekitar 45.000 prajurit dari delapan negara: Jerman, Jepang, Rusia, Britania Raya, Prancis, Amerika Serikat, Italia, dan Austria-Hungaria. Baik Tiongkok maupun aliansi negara-negara asing tersebut tidak mengeluarkan deklarasi perang secara resmi.[1]
Tidak ada traktat atau kesepakatan formal yang mengikat aliansi tersebut. Beberapa sejarawan Barat mendefinisikan fase pertama oermusuhan, dimulai pada bulan Agustus 1900, sebagai "kurang lebih sebuah perang saudara",[1] meskipun Pertempuran Benteng Taku pada bulan Juni mendorong pemerintahan Qing mendukung Kaum Petinju. Dengan berhasilnya invasi tersebut, tahap selanjutnya berkembang menjadi ekspedisi kolonial untuk menghukum Tiongkok, yang menjarah Beijing dan Tiongkok Utara selama lebih dari setahun. Peperangan berakhir pada tahun 1901 dengan penandatanganan Protokol Petinju.[2]
Sejarah
Latar belakang
Kaum Petinju, sebuah gerakan kaum tani, telah menyerang dan membunuh misionaris dan warganegara asing, dan orang Kristen Tionghoa di seluruh Tiongkok utara pada tahun 1899 dan 1900. Pemerintahan Qing dan Pasukan Kekaisaran mendukung Kaum Petinju dan, di bawah jenderal Manchu Ronglu, mengepung diplomat dan warga sipil asing yang berlindung di Kawasan Legasi di Beijing (saat itu diromanisasi sebagai Peking).[3]
Kompleks diplomatik tersebut dikepung oleh Divisi Belakang Wuwei Pasukan Tiongkok dan beberapa Kaum Petinju (Yihetuan), selama 55 hari, dari tanggal 20 Juni hingga 14 Agustus 1900. Sebanyak 473 warganegara asing, 409 tentara dari delapan negara, dan sekitar 3.000 orang Tionghoa Kristen berlindung di Kawasan Legasi.[4] Di bawah komando menteri Britania Raya untuk Tiongkok, Claude Maxwell MacDonald, staf dan personel keamanan legasi melindungi kompleks tersebut dengan senjata api ringan dan satu meriam tua ditemukan dan digali oleh orang Kristen Tionghoa, yang kemudian menyerahkannya kepada pihak aliansi. Meriam tersebut dijuluki Senjata Internasional karena larasnya berasal dari Inggris, pedatinya dari Italia, pelurunya dari Rusia, dan awaknya dari Amerika.[5]
Bangunan lain yang juga dikepung adalah Katedral Utara, Beitang milik Gereja Katolik. Beitang dipertahankan oleh 43 tentara Prancis dan Italia, 33 imam dan biarawati asing, dan sekitar 3.200 orang Tionghoa Katolik. Orang-orang yang mempertahankan mengalami banyak korban akibat kekurangan makanan dan ranjau yang meledak di terowongan yang digali di bawah kompleks.[6]
Pada tanggal 14 Agustus 1900, pasukan aliansi berbaris ke Beijing dari Tianjin untuk mengatasi pengepungan Kawasan Legasi.[7]
Pertempuran militer, ekspedisi hukuman, dan penjarahan
Pasukan aliansi menginvasi dan menduduki Beijing pada tanggal 14 Agustus 1900. Mereka mengalahkan Korps Wuwei Pasukan Kekaisaran Qing dalam beberapa pertempuran dan dengan cepat mengakhiri pengeoungdan dan juga Pemberontakan Petinju. Ibu Suri Cixi, sang kaisar, dan pejabat-pejabat petinggi pemerintahan melarikan diri dari Istana Kekaisaran ke Xi'an dan mengirim Li Hongzhang untuk perundingan damai dengan aliansi.[8]

Saat pasukan aliansi bergerak dari Beijing ke daerah pedesaan Tiongkok Utara, mereka mengeksekusi dengan jumlah yang tidak diketahui orang yang dituduh atau dicurigai menjadi bagian atau mirip dengan pemberontak Petinju, yang menjadi subjek sebuha film pendek awal.[9] Seorang Marinir A.S. menuliskan bahwa ia menyaksikan tentara-tentara Jerman dan Rusia memperkosa kemudian membayonet perempuan.[10] Ketika pasukan aliansi tiba di Beijing, mereka menjarah istana-istana, yamen-yamen, dan gedung-gedung pemerintahan. Hal ini menyebabkan kerugian yang tak terhitung atas peninggalan budaya, buku-buku sastra, dan sejarah (termasuk Yongle Dadian yang terkenal) dan kerusakan terhadap warisan budaya (termasuk Kota Terlarang, Istana Musim Panas, Xishan, dan Istana Musim Panas Lama).[2][11]
Lebih dari 3.000 patung Buddha perunggu berlapis emas, 1.400 benda-benda kesenian dan 4.300 perunggu di Kuil Songzhu (嵩祝寺) dijarah. The gold plating on the copper tanks in front of the Forbidden City palaces was scraped off by allied troops, leaving scratch marks that can be seen even now. The Yongle Dadian that was compiled by 2,100 scholars during the Ming Yongle period (1403–1408), with a total of 22,870 volumes, was partially destroyed in the Second Opium War in 1860. Later, it was collected in the Imperial Palace on Nanchizi Street. It was found and destroyed completely by the alliance in 1900. Part of the Yongle Dadian was used for the construction of fortifications.[2][11]
The Complete Library of the Four Treasuries (or Siku Quanshu) was compiled by 360 scholars during the Qing Qianlong period. It collected 3,461 ancient books, totaling 79,309 volumes. The whole book consisted of seven sets. One set was destroyed in 1860 during the Second Opium War. Another 10,000 plus volumes were destroyed in 1900 by the Eight-Nation Alliance. The Hanlin Academy houses a collection of precious books, orphans, books of the Song dynasty, literature and history materials, and precious paintings. The Eight-Nation Alliance looted the collections. Some of these looted books remain in the custody of museums in London and Paris.[2][11]
Lihat pula
- Pemberontakan Petinju
- Protokol Petinju
- Dinasti Qing
- Kawasan Legasi Beijing
- Pengepungan Legasi internasional
Referensi
- ^ a b Klein (2008), hlm. 3.
- ^ a b c d Hevia, James L. "Looting and its discontents: Moral discourse and the plunder of Beijing, 1900–1901" in R. Bickers and R.G. Tiedemann (eds.), The Boxers, China, and the world Lanham, Maryland: Rowman & Littlefield Publishers, 2009 ISBN 9780742553958
- ^ Grant Hayter-Menzies, Pamela Kyle Crossley (2008). Imperial masquerade: the legend of Princess Der Ling. Hong Kong University Press. hlm. 89. ISBN 978-962-209-881-7. Diakses tanggal 2010-10-31.
- ^ Thompson, 84–85
- ^ Benjamin R. Beede (1994). The War of 1898, and U.S. interventions, 1898–1934: An Encyclopedia. Taylor & Francis. hlm. 50. ISBN 0-8240-5624-8. Diakses tanggal 2010-06-28.
- ^ Thompson, 85, 170–171
- ^ O'Conner, David The Boxer Rebellion London:Robert Hale & Company, 1973, Chap. 16. ISBN 0-7091-4780-5
- ^ Michael Dillon (2016). Encyclopedia of Chinese History. Taylor & Francis. hlm. 124. ISBN 978-1-317-81716-1.
- ^ Beheading a Chinese Boxer at IMDB
- ^ Robert B. Edgerton (1997). Warriors of the rising sun: a history of the Japanese military. W.W. Norton & Company. hlm. 80. ISBN 0-393-04085-2. Diakses tanggal 25 April 2011.
- ^ a b c 剑桥中国晚清史. 中国社会科学出版社. 1985. ISBN 978-7500407669.