More Info
KPOP Image Download
  • Top University
  • Top Anime
  • Home Design
  • Top Legend



  1. ENSIKLOPEDIA
  2. Kesultanan Lingga - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kesultanan Lingga - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kesultanan Lingga

  • العربية
  • Betawi
  • Català
  • English
  • Español
  • Euskara
  • Français
  • Italiano
  • Bahasa Melayu
  • ไทย
  • Türkçe
Sunting pranala
  • Halaman
  • Pembicaraan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Perkakas
Tindakan
  • Baca
  • Sunting
  • Sunting sumber
  • Lihat riwayat
Umum
  • Pranala balik
  • Perubahan terkait
  • Pranala permanen
  • Informasi halaman
  • Kutip halaman ini
  • Lihat URL pendek
  • Unduh kode QR
Cetak/ekspor
  • Buat buku
  • Unduh versi PDF
  • Versi cetak
Dalam proyek lain
  • Wikimedia Commons
  • Butir di Wikidata
Tampilan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kesultanan Riau-Lingga
(Melayu)
کسلطانن رياوليڠݢ (Jawi)
Sultanaat van Riau en Lingga (Belanda)

1824–1911
Bendera Kesultanan Riau Lingga
Bendera
{{{coat_alt}}}
Lambang
Kekuasaan Kesultanan Riau-Lingga berwarna merah, terdiri dari banyak pulau di perairan Laut Tiongkok Selatan dan kantong di Kateman, Sumatra.
Kekuasaan Kesultanan Riau-Lingga berwarna merah, terdiri dari banyak pulau di perairan Laut Tiongkok Selatan dan kantong di Kateman, Sumatra.
StatusProtektorat Hindia Belanda
Ibu kotaPenyengat Inderasakti
(Administratif 1824–1900)
(Kerajaan dan administratif 1900–1911)
Daik
(Kerajaan 1824–1900)
Bahasa yang umum digunakanMelayu
Agama
Islam Sunni
PemerintahanMonarki
Sultan 
• 1819–1832
Abdul Rahman
• 1832–1835
Muhammad II
• 1835–1857
Mahmud IV
• 1857–1883
Sulaiman II
• 1885–1911
Abdul Rahman II
Yang Dipertuan Muda 
• 1805–1831
Jaafar
• 1831–1844
Abdul
• 1844–1857
Ali II
• 1857–1858
Abdullah
• 1858–1899
Muhammad Yusuf
Era SejarahHindia Belanda
• Perjanjian Inggris-Belanda 1824
1824
• Dihapuskan oleh Belanda
1911
Didahului oleh
Digantikan oleh
kslKesultanan
Johor
Hindia Belanda
Sekarang bagian dari Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Kerajaan Kalingga 424–782
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–sekarang
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Kesultanan Riau-Lingga adalah salah satu kerajaan Melayu yang didirikan di Pulau Lingga. Kesultanan ini dibentuk pada tahun 1824 dari pecahan wilayah Kesultanan Johor Riau atas perjanjian yang disetujui oleh Britania Raya dan Belanda. Pendirinya adalah Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah. Wilayah Kesultanan Riau Lingga terletak di provinsi Kepulauan Riau dan sebagian kecil Indragiri Hilir. Pusat pemerintahan Kesultanan Riau Lingga awalnya berada di Tanjung Pinang, tetapi kemudian dipindahkan ke Pulau Lingga. Kesultanan Riau berakhir pada tanggal 3 Februari 1911 dan dikuasai Hindia Belanda. Kesultanan ini berperan dalam pengembangan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa standar yang kemudian ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia.[1]

Pendirian

[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, Kesultanan Riau adalah bagian dari Kerajaan Bintan dan Kesultanan Melaka yang kemudian diteruskan oleh Kesultanan Johor Riau. Pada tahun 1811, Sultan Mahmud Syah III yang berkuasa di Kesultanan Johor Riau wafat sehingga terjadi perselisihan dalam penentuan pewaris. Akhirnya pihak Britania Raya dan Belanda ikut campur dalam menentukan pewaris Kesultanan Johor Riau. Pihak Britania Raya mendukung putra tertua dari Sultan Mahmud Syah III yaitu Tengku Hussain. Sebaliknya, Belanda mendukung adik tiri dari Tengku Hussain, yaitu Abdul Rahman. Penyelesaian pewaris Kesultanan ditentukan dalam Traktat London yang diadakan pada tahun 1824. Keputusannya adalah membagi Kesultanan Johor Riau menjadi dua Kesultanan, yaitu Kesultanan Johor dan Kesultanan Riau Lingga. Kesultanan Johor berada dalam pengaruh Britania Raya, sedangkan Kesultanan Riau berada dalam pengaruh Belanda. Abdul Rahman kemudian ditetapkan sebagai sultan pertama dari Kesultanan Lingga dengan gelar Muazzam Syah.[2]

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan di Kesultanan Lingga dibagi antara sultan, yang dipertuan muda, dan ulama. Sultan memerintah dalam bidang militer, politik, ekonomi, dan perdagangan. Pusat pemerintahannya berada di Pulau Lingga. Sultan yang dipilih berasal dari para bangsawan Melayu. Yang dipertuan muda bertugas sebagai penasehat sultan. Pusat pemerintahannya berada di Pulau Penyengat. Jabatan yang dipertuan muda diberikan kepada bangsawan Bugis. Peran ulama di Kesultanan Lingga adalah sebagai penasehat Yang Dipertuan Muda dalam bidang rihlah ilmiah.[3]

Pemilihan Pulau Lingga sebagai pusat pemerintahan karena lokasinya yang strategis dalam bidang pertahanan. Pulau ini memiliki dataran yang luas di sekeliling Sungai Daik. Selain itu, sungainya dapat dilayari hingga ke bagian hulu, sehingga pasukan Hindia Belanda sulit menjangkaunya. Perairan sungai ini juga berubah-ubah sesuai dengan pasang surut air, sehingga sangat sulit dijangkau oleh kapal pada waktu tertentu.[4]

Politik

[sunting | sunting sumber]

Politik dalam negeri Kesultanan Riau cukup stabil. Pembagian kekuasaan antara Suku Bugis dan Suku Melayu dapat terkendali.[5] Sebaliknya, Kesultanan Riau Lingga berada di wilayah dengan perpolitikan luar negeri yang rumit dan tidak stabil. Kerajaan-kerajaan yang ada di sekitarnya sering melakukan persaingan antarkekuasaan. Selain itu, pejabat pemerintahan dari Kesultanan Riau Lingga juga sering berselisih. Kondisi politik semakin rumit setelah kedatangan Portugal, Hindia Belanda, Britania Raya dan Jepang. Wilayah-wilayah di Kepulauan Riau, Semenanjung Melaka, dan pesisir timur Pulau Sumatra tidak dapat sepenuhnya dikendalikan.[6]

Keagamaan

[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Riau Lingga menjadi salah satu pusat kegiatan pembelajaran Islam di kawasan Melayu. Para ulama berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengajarkan ilmu keislaman. Bersamaan dengan ini, di Kesultanan Riau Lingga juga mulai banyak penganut paham tasawuf.[7] Tarekat yang berkembang pesat adalah tarekat Naqsyabandiyah.[8] Pada masa Kesultanan Lingga, paham fikih dan tasawuf yang paling berpengaruh adalah pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali. Pemikirannya diajarkan oleh Raja Ali Haji yang telah berguru kepada para ulama di Madinah dan Mekkah.[9]

Kebudayaan

[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Riau Lingga telah mengembangkan tradisi tulis menulis untuk kepentingan ilmu pengetahuan dalam bidang sastra dan keagamaan. Naskah-naskah ditulis menggunakan Abjad Jawi / huruf pégon.[10] Kesultanan Riau Lingga membuat kamus Bahasa Melayu dan menjadikannya sebagai sebuah bahasa standar.[11]

Pada tahun 1850, Kesultanan Riau membangun sebuah percetakan surat kabar dengan tulisan dalam Abjad Jawi dan Abjad Latin. Jenis cetakannya adalah cetakan litograf. Selain itu, di Kesultanan Riau Lingga juga dibentuk perkumpulan para cendekiawan yang menulis karya-karya ilmiah dan menerjemahkan buku-buku berbahasa asing, terutama buku keagamaan yang menggunakan bahasa Arab.[12]

Kesultanan Riau Lingga juga mengembangkan Bahasa Melayu, terutama bahasa lisan di kalangan istana. Bahasa Melayu ini kemudian disebarkan untuk digunakan oleh masyarakat umum.[13] Bahasa Melayu kemudian disempurnakan menjadi bahasa baku di Pulau Penyengat.[14] Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Muzafar Syah, Kerajaan Riau Lingga menetapkan Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi. Bahasa ini kemudian ditetapkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda Indonesia yang diadakan pada tahun 1928 dengan sebutan baru yaitu Bahasa Indonesia.[15]

Sultan-Sultan

[sunting | sunting sumber]

Sultan Abdurrahman (1819-1832)

[sunting | sunting sumber]

Sultan Abdurrahman adalah sultan pertama dari Kesultanan Riau Lingga. Ia adalah putra dari Sultan Mahmud Syah III yang berkuasa di Kesultanan Johor Riau. Setelah ayahnya wafat, kesultanannya dibagi menjadi dua, yaitu Kesultanan Johor Singapura dan Kesultanan Riau Lingga. Pembagian wilayahnya ditentukan oleh Britania Raya dan Hindia Belanda dalam Traktat London yang ditetapkan pada tahun 1824. Wilayah Kesultanan Johor Singapura mencakup Johor, Singapura, Pahang, dan Terengganu. Sedangkan wilayah Kesultanan Riau Lingga mencakup Pulau Lingga, Pulau Singkep, Batam dan Natuna.[16]

Sultan Muhammad Syah (1832-1841)

[sunting | sunting sumber]

Sultan Muhammad Syah menggantikan ayahnya yaitu Sultan Abdurrahman yang wafat pada 12 Rabiul Awal 1284 H (1832 M). Ayahnya dimakamkan di Bukit Cengkil Daik. Nama asli dari Sultan Muhammad Syah adalah Tengku Besar. Sultan Muhammad Syah wafat pada tahun 1841 dan dimakamkan di Bukit Cengkeh. Sebelum wafat, ia telah menunjuk putranya yang bernama Tengku Mahmud sebagai pewaris.[17]

Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857)

[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Muzafar Syah, Kesultanan Riau Lingga menjadi salah satu kerajaan yang memiliki pengaruh besar bagi Hindia Belanda. Kekuasaannya diberhentikan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada tanggal 23 September 1857.[18]

Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1857-1883)

[sunting | sunting sumber]

Pengganti Sultan Mahmud Muzafar Syah adalah pamannya yang bernama Tengku Sulaiman. Gelarnya adalah Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Pelantikannya sebagai sultan diadakan pada tanggal 10 Oktober 1857. Ia memerintah hingga wafat pada tanggal 17 September 1883. Pemakamannya berada di Bukit Cengkeh.[18]

Sultan Abdurrahman Muazam Syah (1883-1913)

[sunting | sunting sumber]

Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah tidak mempunyai keturunan, sehingga penggantinya adalah putri Sultan Mahmud Muzafar Syah yang bernama Fatimah. Suami dari Fatimah adalah Yang Dipertuan Muda ke-10 bernama Raja Muhammad Yusuf, sehingga kekuasaannya diberikan kepada anaknya yang bernama Raja Abdurrahman. Setelah dilantik pada tahun 1883, Raja Abdurrahman diberi gelar Sultan Abdurrahman Muazam Syah. Pada 1903, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat. Kesultanan Lingga mengalami perkembangan pesat selama masa pemerintahannya. Sultan Abdurrahman Muazam Syah mendirikan perkumpulan Rusydiah di Pulau Penyengat yang kemudian menjadi pusat perkembangan politik, budaya, dan kemasyarakatan. Ia menjadi sultan terakhir dari Kesultanan Lingga setelah Hindia Belanda memutuskan untuk membubarkan kerajaan ini pada tanggal 10 Februari 1911. Keputusan ini ditetapkan karena Sultan Abdurrahman Muazam Syah tidak patuh terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Setelah diberhentikan sebagai sultan, ia bersama para bangsawan akhirnya pindah ke Singapura.[19]

Peninggalan

[sunting | sunting sumber]

Masjid Raya Pulau Penyengat

[sunting | sunting sumber]

Masjid Raya Sultan Riau didirikan di Pulau Penyengat. Pada masa Kesultanan Riau Lingga, masjid ini digunakan sebagai pusat administrasi kesultanan Riau. Di dalam masjid terdapat banyak naskah kuno berupa Al-Qur'an hasil tulisan tangan.[20]

Mushaf Al-Qur'an

[sunting | sunting sumber]

Mushaf Al-Qur'an Kesultanan Lingga ditemukan di Masjid Raya Pulau Penyengat dan di Museum Linggam Cahaya. Sebagian besar mushaf telah lapuk, tidak utuh dan penulisnya anonim. Mushaf-mushaf yang utuh dan tidak anonim yaitu mushaf Ali bin Abdullah al-Bugisi al-Syafi’i (1752 M) dan mushaf Abdul Rahman Stanbul (1867 M).[21]

Naskah keagamaan

[sunting | sunting sumber]

Naskah-naskah keagamaan dari Kesultanan Lingga ditemukan di Pulau Lingga. Bentuknya terbagi menjadi dua jenis, yaitu cetakan dan tulis tangan. Pembahasan dari naskah-naskah tersebut adalah tentang ilmu fikih, tauhid, hadis, dan tasawuf. Sebagian besar naskah tidak mencatumkan nama penulis dan tahun penulisannya. Naskah-nasah ini disimpan di Museum Daik Lingga dan di kediaman Tengku Husin yang merupakan salah satu keturunan dari penguasa Kesultanan Lingga.[22]

Naskah pengobatan

[sunting | sunting sumber]

Naskah-naskah pengobatan yang ditemukan menggunakan Abjad Jawi. Pemilik naskah bernama Raja Malik. Salah satu naskah berjudul Kitab Obat Sopak. Isinya membahas tentang penggunaan metode zikir asmaul husna dalam mengobati belang-belang berwarna putih yang muncul di tangan atau kaki. Selain itu, ditemukan sebuah naskah yang membahas tentang pengobatan yang dapat meningkatkan kualitas hubungan suami-istri dalam berumah tangga. Naskah ini ditulis dalam Bahasa Melayu.[23]

Naskah administrasi kesultanan

[sunting | sunting sumber]

Isi dari naskah-naskah administrasi yang ditemukan adalah mengenai keadaan pemerintahan pada masa keemasan dari Kesultanan. Naskah ditulis dengan Abjad Jawi dan disimpan di Museum Lingga Cahaya. Naskah penting yang penting di antaranya yaitu tentang pembukaan lahan perkebunan di Pulau Selayar (1327 H), keterangan kelahiran dan kematian penduduk (1307 H), keterangan penunjukan dan hasil kerja kapten kapal (1311 H), dan pengangkatan raja Riau yang bernama Raja Muhammad (1855 M).[24]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Sunandar 2015, hlm. 188.
  2. ^ Sunandar 2015, hlm. 190.
  3. ^ Syahid 2005, hlm. 301.
  4. ^ Rehayati dan Farihah 2017, hlm. 173.
  5. ^ Syahid 2005, hlm. 303.
  6. ^ Syahid 2005, hlm. 302.
  7. ^ Syahid 2005, hlm. 306.
  8. ^ Syahid 2005, hlm. 308.
  9. ^ Rehayati dan Farihah 2017, hlm. 173–174.
  10. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 55.
  11. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 59.
  12. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 60.
  13. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 15–16.
  14. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 20.
  15. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 24.
  16. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 156.
  17. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 156–157.
  18. ^ a b Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 157.
  19. ^ Firdaus, Elmustian, dan Melay 2018, hlm. 158–159.
  20. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 60–61.
  21. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 63–64.
  22. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 64–65.
  23. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 66.
  24. ^ Jamal dan Harun 2014, hlm. 67.

Daftar Pustaka

[sunting | sunting sumber]

Firdaus, Elmustian, dan Melay, R., (Ed.) (2018). Tamadun Melayu Lingga (PDF). Lingga: Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga. ISBN 978-602-53286-0-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Jamal, K., dan Harun, I. (2014). "Inventarisasi naskah Klasik Kerajaan Lingga". Sosial Budaya. 11 (1): 55–69. ISSN 2407-1684. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Rehayati, R., dan Farihah, I. (2017). "Transmisi Islam Moderat oleh Raja Ali Haji di Kesultanan Riau-Lingga pada Abad Ke-19". Ushuluddin. 25 (2): 172–187. doi:10.24014/jush.v25i2.3890. ISSN 2407-8247. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Sunandar, Heri (2015). "Aspek Sosio Politis Naskah dan Arkeologi". Al-Fikra. 14 (2): 186–212. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Syahid, Achmad (Desember 2005). "Sufistikasi Kekuasaan pada Kesultanan Riau-Lingga Abad XVIII-XIX M". Ulumuna. IX (2): 295–312. ISSN 2355-7648. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sumatra
Aceh
  • Aceh
  • Daya
  • Jeumpa
  • Lamuri
  • Linge
  • Pedir
  • Peureulak
  • Samudera Pasai
  • Tamiang
Bengkulu
  • Pat Petulai
  • Selebar
Jambi
  • Jambi
  • Kantoli
  • Koying
Lampung
  • Keratuan Balaw
  • Keratuan Di Puncak
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Semaka
  • Tulang Bawang
  • Sekala Bekhak
Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Johor
  • Riau-Lingga
Riau
  • Indragiri
  • Kampar Kiri
  • Kandis
  • Koto Alang
  • Kuantan
  • Kuntu Kampar
  • Melaka
  • Pelalawan
  • Rokan IV Koto
  • Siak
  • Tambusai
Sumatera Barat
  • Pasumayan Koto Batu
  • Bungo Satangkai
  • Dusun Tuo
  • Minanga
  • Dharmasraya
  • Pagaruyung
  • Inderapura
  • Samaskuta
  • Siguntur
  • Sontang
  • Sungai Pagu
Sumatera Selatan
  • Kerajaan Palembang
  • Kesultanan Palembang Darussalam
  • Sriwijaya
Sumatera Utara
  • Aru
  • Asahan
  • Barus
  • Batu Bara
  • Deli
  • Dolog Silou
  • Kota Pinang
  • Langkat
  • Padang
  • Panei
  • Pannai
  • Purba
  • Raya
  • Serdang
  • Siantar
  • Silimakuta
  • Tanah Jawa
  • l
  • b
  • s
Topik Kepulauan Riau
Wilayah administratif
  • Kepulauan Riau
  • Kabupaten dan kota
  • Kabupaten
  • Bupati dan wali kota
Politik & pemerintahan
  • Plh. Gubernur: Tengku Said Arif Fadillah
  • Wakil Gubernur: Lowong
  • Ketua DPRD: Jumaga Nadeak
  • Wakil Ketua DPRD I: Rizki Faisal
  • Wakil Ketua DPRD II: Husnizar Hood
  • Wakil Ketua DPRD III: Amir Hakim H Siregar
  • Sekretaris Daerah: Reni Yusneli (Plt.)
Lembaga terkait
  • BP Batam
  • Bank Riau Kepri
  • Batalyon Infanteri 10/Marinir
  • Batalyon Infanteri 134/Tuah Sakti
  • Kepolisian Daerah Kepulauan Riau
  • Korem 033/Wira Pratama
  • Kwartir Daerah Kepulauan Riau
  • Persatuan Muballigh Kota Batam
  • Wing Udara 2/Puspenerbal
Sejarah
  • Kesultanan Johor
  • Kerajaan Melayu
  • Kesultanan Lingga
  • Kesultanan Melaka
  • Kesultanan Siak Sri Inderapura
  • Perjanjian Inggris-Belanda 1814
  • Perjanjian Inggris-Belanda 1824
  • Perjanjian Sumatera
Bentang alam
Gunung & bukit
  • Bukit Belah
  • Bukit Bestari
  • Bukit Harapan
  • Bukit Langkap
  • Bukit Tempayan
  • Gunung Daik
  • Gunung Durian
  • Gunung Kijang
  • Gunung Lengkuas
  • Gunung Putri
  • Gunung Ranai
Pulau & kepulauan
  • Batuan Tengah
  • Kepulauan Anambas
  • Kepulauan Karimun
  • Kepulauan Lingga
  • Kepulauan Natuna
  • Kepulauan Natuna Besar
  • Kepulauan Natuna Selatan
  • Kepulauan Riau
  • Kepulauan Tambelan
  • Pulau Abang
  • Pulau Batam
  • Pulau Batu Berhanti
  • Pulau Berakit
  • Pulau Bintan
  • Pulau Bulan
  • Pulau Damar
  • Pulau Dompak
  • Pulau Galang
  • Pulau Iyu Kecil
  • Pulau Karimun Kecil
  • Pulau Kepala
  • Pulau Kundur
  • Pulau Laut
  • Pulau Lingga
  • Pulau Mangkai
  • Pulau Medang
  • Pulau Mentebung
  • Pulau Nipa
  • Pulau Nongsa
  • Pulau Panjang
  • Pulau Pelampong
  • Pulau Penyengat
  • Pulau Pinang
  • Pulau Rempang
  • Pulau Sambu
  • Pulau Sebetul
  • Pulau Sekatung
  • Pulau Semakau
  • Pulau Semiun
  • Pulau Sentut
  • Pulau Senua
  • Pulau Siantan
  • Pulau Singkep
  • Pulau Subi Kecil
  • Pulau Terong
  • Pulau Tiga
  • Pulau Tokong Belayar
  • Pulau Tokong Malang Biru
  • Pulau Tokong Nanas
  • Pulau Tokongboro
Perairan
  • Kuala Raya
  • Kuala Sempang
  • Laut Natuna
  • Laut Tiongkok Selatan
  • Sei Jang
  • Sei Pinang
  • Selat Karimata
  • Selat Mie
  • Selat Singapura
  • Sungai Beduk
  • Sungai Binti
  • Sungai Buluh
  • Sungai Enam
  • Sungai Harapan
  • Sungai Jodoh
  • Sungai Langkai
  • Sungai Lekop (Batam)
  • Sungai Lekop (Bintan)
  • Sungai Panas
  • Sungai Pelunggut
  • Sungai Raya
  • Sungai Sebesi
  • Sungai Ulu
  • Sungai Ungar
  • Sungai Ungar Utara
  • Teluk Air
  • Teluk Bakau
  • Teluk Bintan
  • Teluk Butun
  • Teluk Lingga Utara
  • Teluk Lobam
  • Teluk Radang
  • Teluk Sasah
  • Teluk Sebong
  • Teluk Sekuni
  • Teluk Tering
  • Teluk Uma
Tanjung & ujung
  • Tanjung Ayun Sakti
  • Tanjung Balai Karimun
  • Tanjung Batu
  • Tanjung Batu Kecil
  • Tanjung Berlian
  • Tanjung Bunguran Timur
  • Tanjung Buntung
  • Tanjung Hutan
  • Tanjung Kilang
  • Tanjung Pala
  • Tanjung Piayu
  • Tanjung Pinang
  • Tanjung Pinggir
  • Tanjung Pelanduk
  • Tanjung Riau
  • Tanjung Sari
  • Tanjung Sengkuang
  • Tanjung Tembeling
  • Tanjung Uban
  • Tanjung Uma
  • Tanjung Uncang
  • Tanjung Unggat
Kota kecil
  • Kota Kijang
  • Kota Piring
  • Kota Ranai
  • Kota Singkep
Pantai
  • Pantai Gelam
  • Pantai Impian
Pariwisata
  • Batam City Square
  • Bestari Mall
  • Bintan Indah Mall
  • DC Mall
  • Kem pengungsi Galang
  • Mall Ramayana Tanjung Pinang
  • Mega Mall Batam Center
  • Mega Wisata Ocarina
  • Nagoya Hill Superblock
  • Nirwana Gardens
  • Panbil Mall
  • Pantai Impian
  • Tepi Laut (waterfront city)
  • Top 100 Batuaji
  • Tugu Pensil
  • Daftar: Museum di Tanjungpinang
  • Daftar pantai
Transportasi
  • Bandara Hang Nadim
  • Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah
  • Bandar Udara Sei Bati
  • Bandar Udara Dabo
  • Bandar Udara Matak
  • Bandar Udara Ranai
  • Pelabuhan Batam Centre
  • Pelabuhan Nongsa
  • Pelabuhan Telaga Punggur
  • Pelabuhan Sekupang
  • Pelabuhan Sri Bintan Pura
  • Pelabuhan Bulang Linggi
  • Terminal Sei Carang
  • Jalan : Jalan Wiratno
  • Jembatan: Jembatan Barelang
  • Daftar: Jalan di Kota Tanjungpinang
Media
  • Batam Pos
  • Pos Metro Batam
  • Tribun Batam
  • RTV Batam
  • Batam TV
  • Kepri Cyber School TV
  • Radio Sindo Trijaya Batam
  • Batam Bintan Telekomunikasi
  • Daftar: Stasiun radio
  • Stasiun televisi
  • Surat kabar
Pendidikan
  • Politeknik Negeri Batam
  • Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina
  • STMIK Putera Batam
  • Universitas Batam
  • Universitas Internasional Batam
  • Universitas Maritim Raja Ali Haji
  • Universitas Putera Batam
  • Universitas Riau Kepulauan
  • Daftar: Perguruan tinggi swasta
  • Sekolah di Batam
  • Sekolah menengah kejuruan
Tempat ibadah
  • Masjid Agung Batam
  • Masjid Agung Natuna
  • Masjid Raya Baitul Makmur Tanjung Uban
  • Masjid Raya Sultan Riau
  • Paroki Kerahiman Ilahi Tiban
  • Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi Tembesi
  • Paroki Santo Damian Batam
  • Paroki Santo Petrus Lubukbaja
  • Vihara Avalokitesvara Graha
  • Vihara Guna Vijaya
Rumah sakit
  • Rumah Sakit Awal Bros
  • Rumah Sakit Budi Kemuliaan
  • Rumah Sakit Otorita Batam
  • Rumah Sakit Santa Elisabeth
  • Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah
Hotel dan resor
  • Angsana Resort & Spa
  • Banyan Tree Bintan
  • Batam City Condominium
  • Bintan Resorts
  • Club Med Ria Bintan
  • Nikoi Island Resort
  • Nongsa Point Marina Resort Batam
  • Turi Beach Resort Batam
  • Daftar: Hotel
  • Gedung tertinggi di Batam
Tokoh
  • Achmad Syukrani
  • Agita Maryalda Zahidin
  • Ahmad Dahlan
  • Alias Wello
  • Amarullah Nasution
  • Amsakar Achmad
  • Andayono
  • Andi Anhar Chalid
  • Andi Rivai Siregar
  • Andy Ayunir
  • Andy Liany
  • Ansar Ahmad
  • Anton Bachrul Alam
  • Anwar Hasyim
  • Apri Sujadi
  • Arief Koeshariadi
  • Arief Muhammad
  • Arman Depari
  • Asman Abnur
  • Astari Aslam
  • Aunur Rafiq
  • Basaria Panjaitan
  • Basrizal Koto
  • BJ Habibie
  • BM. Syamsudin
  • Daeng Chelak
  • Daeng Marewah
  • Daeng Rusnadi
  • Dalmasri Syam
  • Dikdik Mulyana Arief Mansur
  • Doli Boniara
  • Eko Hadi Sutedjo
  • Eko Margiyono
  • Eko Prasojo
  • Erdin Odang
  • Ferry Moniaga
  • Fulad
  • Gabriel Stevent Damanik
  • Glory Rosary Oyong
  • Hamid Rizal
  • Hardi Selamat Hood
  • Harry Azhar Azis
  • Hartind Asrin
  • Hasan Junus
  • Helmalia Putri
  • Hendra Heryana
  • Herlini Amran
  • Herry Heryawan
  • Heru Pranoto
  • Husnizar Hood
  • Huzrin Hood
  • Idris Zaini
  • Ilyas Sabli
  • Imalko
  • Ippho Santosa
  • Ismeth Abdullah
  • Joller Sitorus
  • M Nizar
  • Manan Sasmita
  • Maphilinda Boer
  • Megalina Wong
  • Muhammad Fadil Imran
  • Muhammad Rudi
  • Muhammad Saleh Al-Minankabawi
  • Muslim Muhammad Yatim
  • Novemthree Siahaan
  • Nyat Kadir
  • Oki Setiana Dewi
  • Opet Alatas
  • Pudji Hartanto Iskandar
  • Raden Budi Winarso
  • Raja Ali Haji
  • Raja Haji Fisabilillah
  • Raja Lumu
  • Ramli
  • Ria Saptarika
  • Rinaldi Firmansyah
  • Rinaldy Dalimi
  • Robert Iwan Loriaux
  • Rudy Andi Hamzah
  • Ryan Thamrin
  • Simson Tambunan
  • Slamet Riyanto
  • Soerya Respationo
  • Sofyan Tan
  • Suhajar Diantoro
  • Sukrawardi Dahlan
  • Sultan Lingga
  • Sutanto Tan
  • Sutarman
  • Syarif Saif al-Alam
  • Tafta Zaini
  • Tengku Sulung
  • Tiara Chairani Permata Dely
  • Tungki Ariwibowo
  • Tusiran Suseno
  • Usman Janatin
  • Vidoreen Joe
  • Vira Yuniar
  • Wan Abubakar
  • Wendy Afiana
  • Winston Pardamean Simanjuntak
  • Yan Fitri Halimansyah
  • Yang di-Pertuan Besar
  • Yang Dipertuan Muda
  • Yotje Mende
  • Zulbahri Madjid

Daftar: Tokoh perempuan

Budaya
  • Bahasa Hokkien
  • Bahasa Melayu
  • Bahasa Tiochiu
  • Baju kurung
  • Gasing
  • Gurindam Dua Belas
  • Hikayat Hang Tuah
  • Keris
  • Kisah Pulau Senua
  • Lambang Kepulauan Riau
  • Melayu
  • Melayu Deutero
  • Parang
  • Putri Pandan Berduri
  • Ras Melayu
  • Rumah Belah Bubung
  • Rumah Melayu
  • Senjata Melayu
  • Songket
  • Songkok
  • Suku Laut
  • Suku Melayu
  • Tari Sekapur Sirih
  • Tari Zapin
  • Tuhfat al-Nafis
  • Wayang Bangsawan

Daftar: Bahasa

Kuliner
  • Asam pedas
  • Laksa
  • Nasi lemak
  • Otak otak
  • Pulut
  • Roti canai
  • Roti jala
  • Teh tarik
Film
  • Badai di Ujung Negeri
  • Dead Mine
  • Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji
  • Meraih Mimpi
  • True Heart
Olahraga
  • Bintan Triathlon
  • Stadion Badang Perkasa
  • Stadion Sulaiman Abdullah
  • Stadion Taruna Sakti
  • Stadion Temenggung Abdul Jamal

Daftar: Tim sepak bola

Musibah dan bencana
  • Kecelakaan pesawat Cassa 212-100 2011
  • Kerusuhan Batam 2011
  • Musibah KM Dumai Express 10
Kontes, acara, festival, dan lain-lain
  • Indonesia Terbuka 2003
  • Miss Kepulauan Riau
  • Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXV
  • Perwakilan Kepulauan Riau
  • Puteri Kepulauan Riau 2015
Flora dan fauna
  • Arapaima
  • Artocarpus
  • Asi Dada-kelabu
  • Asi Kumis
  • Babi berjenggot
  • Bakas
  • Bakau
  • Bandotan candi
  • Bayeh
  • Birang
  • Bockadam Indo-Malaya
  • Buah naga
  • Bunglon
  • Burung-madu kelapa
  • Caladi batu
  • Cecak terbang
  • Cekakak batu
  • Cekakak merah
  • Cempedak
  • Cica-daun besar
  • Cica-daun sayap-biru
  • Diospyros
  • Dokun
  • Duyung
  • Elang-alap jambul
  • Elang-alap jepang
  • Elang-laut dada-putih
  • Erabu
  • Ideopsis juventa
  • Ikan Napoleon
  • Kadal pohon hijau
  • Kakap
  • Kakap merah
  • Kalong besar
  • Keledang
  • Kodok-puru hutan
  • Kulim
  • Labi-labi hutan
  • Lemidi
  • Madi-hijau kecil
  • Merpati-hutan perak
  • Murai-batu arung
  • Musang bulan
  • Musang luwak
  • Mydaus javanensis
  • Nepenthes mirabilis
  • Nepenthes rafflesiana
  • Nibung
  • Paedocypris progenetica
  • Paok bakau
  • Paok sayap-biru
  • Pelanduk kancil
  • Pelanduk napu
  • Penyu
  • Raja-udang meninting
  • Sepejam
  • Serindit melayu
  • Sirih
  • Terumbu karang
  • Troides helena
  • Tupai
  • Tupai merah
  • Tupai tanah
  • Ujung atap
  • Ular air belang
  • Ular anang
  • Ular bajing
  • Ular cabai besar
  • Ular gadung
  • Ular kukri cokelat
  • Ular paku
  • Ular pelangi
  • Ular segitiga-merah
  • Ular sendok sumatera
  • Ular sinar-matahari asia tenggara
  • Ular terbang firdaus
  • Ular terbang merah
  • Ular tutul
  • Welang kepala-merah
Fasilitas dan lain-lain
  • Fasharkan Mentigi
  • Sistem kabel Jakarta-Bangka-Bintan-Batam-Singapura
  • Sistem kabel Batam-Singapura
  • Sistem kabel Batam-Rengit
Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kesultanan_Lingga&oldid=27633958"
Kategori:
  • EngvarB from March 2015
  • Kesultanan Lingga
  • Kerajaan di Nusantara
  • Kerajaan di Kepulauan Riau
  • Kabupaten Lingga
  • Kabupaten Bintan
  • Kota Tanjung Pinang
  • Kota Batam
Kategori tersembunyi:
  • Pages using the JsonConfig extension
  • Artikel dengan parameter tanggal yang tidak valid pada templat
  • Use dmy dates from March 2015
  • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list
  • Pemeliharaan CS1: Status URL
  • Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan

Best Rank
More Recommended Articles